Wednesday, September 2, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 10:49:00 AM | No comments

Ketika Dia yang Bukan Perokok, Terpapar Asap Rokok

"Ibu ini perokok berat?" tanya dokter.
"Enggak. Sama sekali tidak," jawab keluarga.

Si ibu, pasien yang sedang koma itu, mengalami meningitis dan infeksi paru. Paru-parunya kering. "Persis seperti gambar paru-paru di iklan rokok itu," kata kakaknya.

Pasien berusia 34 tahun ini adalah seorang ibu rumah tangga. Hanya sebulan sejak penyakitnya ditemukan, ia meninggal.

Suami pasien adalah seorang perokok berat. Sejak kecil pasien juga jarang keluar rumah, sehingga sering terpapar asap rokok ayahnya. Ayahnya meninggal di usia 60 tahun akibat stroke dan gangguan paru-paru. Ibu mereka meninggal dua tahun lalu. 

Kini si kakak adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga kecil itu. Si kakak terbebas dari penyakit akibat asap rokok, sebab sewaktu kecil ia sering main ke luar rumah. Suaminya juga bukan perokok.

Menurut dokter, paru-paru demikian hanya akan didapat dari perokok yang sudah merokok selama puluhan tahun. Dokter juga mengatakan bahwa perokok pasif memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi dibanding perokok aktif.

Itu meninggal bukan karena polusi udara atau asap knalpot?
Pasien tinggal di dataran tinggi di daerah yang jauh dari kota. Apalagi kesehariannya hanya di rumah.

Bahwa suami dan bapaknya merokok di dalam rumah, adalah nyata.

Kini yang perlu diselamatkan adalah anak-anak pasien, yang saat ini tinggal dengan ayah mereka yang bahkan masih merokok di dalam rumah saat keluarga mengadakan tahlilan kematian instrinya.

*
Pagi tadi seorang teman menceritakan ini padaku, tentang sepupunya yang berpulang pekan lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...

Semoga menjadi pelajaran buat kita semua.

NB: Sebentar lagi para pro industri rokok akan cari tahu siapa pasien ini, lalu meminta dokter dan keluarga pasien untuk tidak bercerita pada media, apalagi kepada orang-orang pro pengendalian tembakau.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata