Tuesday, April 9, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 9:34:00 PM | No comments

Batik Mandala Borobudur, Akhiri Salah Didik

Atas: Batik telah siap. Bawah: Desain batik


Sejak Februari 2010, pengelola Candi Borobudur mewajibkan pengunjung untuk mengenakan kain batik. Kain ini berbentuk kain panjang yang dililitkan di pinggang, hingga menjadi seperti sarung.

Penggunaan kain ini adalah sebagai bentuk penghormatan atas candi, sebagai bangunan sakral tempat peribadatan. Pesan tersebut sangat baik, agar pengunjung tak menganggap candi hanya sebagai monumen mati.

Inilah bentuk pendidikan pusaka (heritage) yang sangat mengena. Selain itu, pemilihan batik itu sendiri sangat penting untuk mengenalkan pusaka tak-benda (intangible) yang kita agungkan.

Batik

Namun sayang, sesungguhnya kain panjang yang digunakan pengunjung Borobudur bukanlah batik, melainkan kain bermotif batik yang dibuat dengan teknik cetak (printing). Teknik ini, tentu saja, tak dikenal dalam pembuatan batik tradisional. Tulis dan cap adalah dua teknik membatik yang menjadi warisan budaya. Dua teknik ini pula yang membuat UNESCO memasukkan batik dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (2009), bukan teknik cetak.

Sayangnya, masih banyak kalangan yang tidak memahami hal ini. Serbuan kain yang dibuat dengan metode cetak bermotif batik adalah salah satu penyebabnya. Terlebih lagi, jenis kain ini banyak yang tidak berasal dari Indonesia, namun negara lain seperti Cina.

Harga yang murah--akibat pembuatan massal nan cepat, hal yang tak mungkin dapat dipenuhi pengrajin batik tulis dan cap--membuat kain jenis ini laku di pasaran. Masyarakat merasa telah melestarikan budayanya, tanpa tahu bahwa yang dikenakannya bukanlah batik. Di sisi lain, produsen kain printing bermotif batik meneguk keuntungan instan tanpa peduli bahwa ia telah menodai warisan peninggalan nenek moyang bangsa ini.

Ironisnya, pendidikan pusaka warisan budaya ini juga tidak dijalankan dengan benar oleh pengelola Borobudur, dalam hal ini adalah PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWC). Lihatlah kain yang mereka pilih. Tak lain tak bukan adalah kain cetak bermotif batik.

Sebagai pihak yang memiliki pemahaman mengenai warisan budaya, sudah sepatutnya PT TWC mengajarkan pendidikan pusaka yang benar, tidak nyeleneh. Hanya karena memanfaatkan kesempatan proyek pengadaan batik, lalu dicetaklah kain bergambar Candi Borobudur dengan nuansa motif ala batik, berbungkus alasan menghormati leluhur. Nyeleneh.

Produk Lokal

Kain bukan batik itu tidak dibuat di Borobudur. Tak ada mesin printing di desa ini. Sayang sekali jika kesempatan sebaik itu tak digunakan untuk memberdayakan warga. Padahal, Desa Borobudur memiliki kelompok batik yang tersebar di sekitar candi. Dusun Gendingan misalnya.
Atas: Wisatawan belajar membatik. Bawah: Showroom
Meski tak memiliki tradisi batik, dusun yang teletak di utara Candi Borobudur ini telah mampu memproduksi batik. Rumah Kepala Dusun Gendingan pun dijadikan showroom sekaligus workshop, dimana pengunjung dapat belajar membuat batik tulis.

Adalah Jack Priyana, warga lokal, yang menggiatkan aktivitas membatik di Desa Borobudur. Sejak pertengahan 2012, kelompok ini berhasil mengajukan rancangannya untuk digunakan sebagai pengganti sarung printing yang digunakan kini.

Bahan yang digunakan adalah santung, kain lembut yang adem di kulit. Proses produksinya menggunakan metode cap, dengan bahan pewarna sintetis. Motif batik didapat Jack dari eksplorasi pahatan relief yang terdapat di Candi Borobudur. Motif ini dinamai Mandala Borobudur.
Proses ngecap
Hingga akhir Maret lalu, PT TWC telah memesan 1000 lembar batik. Jumlah ini akan bertambah sesuai kebutuhan. Pengunjung akan dapat mengenakan hasil kreasi warga Desa Borobudur tersebut di pertengahan tahun ini. Namun, saat kini Anda hanya dapat melihat proses pembuatannya. Proses ini dipusatkan di Rumah Seni Atap Langit yang terletak di Jalan Balaputra Dewa Nomor 55, Desa Borobudur

Penggunaan produk lokal akan mendukung kemajuan kelompok warga. Semoga ini menjadi media promosi, agar wisatawan Borobudur tak hanya datang ke candi, namun juga mampir ke dusun-dusun untuk mempelajari budaya desa.

Selain membangkitkan ekonomi warga, upaya ini juga turut memberi pendidikan yang benar kepada masyarakat Indonesia dan dunia, tentang makna batik yang sesungguhnya. Inilah akhir dari kesalahan pengelola Borobudur dalam memberikan pendidikan pusaka bagi publik. Semoga saja upaya ini segera diikuti oleh candi-candi lainnya.

Mlekom,
AZ

*Cek gambar lainnya di sini.
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata